Hammockan dan Sarungan

IMG_20170603_075133_016

Kata siapa bulan puasa gak boleh main outdoor? Bulan Ramadhan memang identik dengan menahan lapar dan dahaga. Dengan kata lain maunya diam, menghindari aktivitas yang membuat tubuh cepat lelah, berkeringat dan haus. Dan melakukan kegiatan outdoor justru berlawanan dengan semua itu. Tapi bukan berarti karen lagi Ramadhan, atau lagi puasa lalu kita gak bisa melakukan kegiatan di alam yang justru sangat mengasyikan itu. Karena meski saat puasa, kita juga masih tetap bisa melakukan kegiatan yang cukup menantang.

Syarat utamanya tentu saja kesiapan. Saat berpuasa apakah kita siap menahan godaan yang teramat berat? Manakala lagi hiking yang biasanya membawa bekal air minum, sekarang tidak lagi. Nah sanggup enggak? Kalau tidak, ya sudah jangan cari masalah. Mending cari kegiatan lain saja di rumah. Tapi kalau siap, baru lanjut ke tahap berikutnya.

Buat orang dewasa pasti bisa mengatur dan memperkirakan semua itu. Tapi bagaimana dengan anak-anak? Tidak semua anak dapat mengerti dengan penjelasan. Balita kami, Fahmi contohnya. Meski bulan puasa dia selalu merengek minta main ke luar. Maksudnya lihat pepohonan, melintasi bukit, naik gunung, panjat tebing, dan main bola di air sungai seperti kebiasaan hari biasa.

Namanya juga balita. Tak cukup iya iya nanti nanti. Keukeuh belum berhenti merengek kalau belum terpenuhi keinginannya. Seperti tadi pagi, ingin hammockan saat itu juga. Padahal saya baru pulang dari masjid dan lagi sibuk dengan pekerjaan.

Eh, dasar anak. Tidak mau diam kalau tidak dipenuhi keinginannya. Akhirnya kami dapat solusi: pasang hammock di pohon halaman saja.

Beruntung punya beberapa batang pohon salam yang kuat dan menjulang. Meski tetangga rewel merasa halamannya dikotori oleh sampah daun salam yang berjatuhan namun kami tetap mempertahankannya. Kini pohon salam itu nambah gunanya. Selain daunnya buat bumbu masak, daunnya melindungi kami dari terik matahari kini batang pohonnya juga jadi tiang kokoh untuk pasang hammock.

Tidak butuh waktu lama hammock sudah terpasang dengan kuat. Saat dicoba ternyata bukan hanya asyik buat mainan anak, kita orang dewasa juga senang dan betah dibuatnya. Hahaha!

Halaman produktif. Meski bulan Ramadhan anak-anak tetap masih bisa main bersama di alam. Dan ini sesuatu yang teramat langka untuk bisa didapatkan oleh warga kota yang rata-rata halaman rumahnya sempit penuh dengan batu dan bata pula.

Tidak perlu butuh buking lokasi, tak harus banyak persiapan seperti mau naik atau berpetualang beneran. Kami cukup melipir dan melakukan itu semua di belakang rumah.

Hammockan sambil sarungan kenapa tidak? Coba dan lakukanlah bersama keluarga tercinta dan rasakan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli itu kini milik anda.

Advertisements

Tidak Ada Kata Senior atau Pemula, Tapi Kalau Mau Coba Mendaki Gunung ini Pantas untuk Pendakian Pertama

Tidak Ada Kata Senior atau Pemula, Tapi Kalau Mau Coba Mendaki  Gunung ini Pantas untuk Pendakian Pertama

Naik GunungPendakian Pertama (1)

Mengetahui kami berencana akan mendaki gunung sambil membawa anak usia balita, banyak yang bertanya seputar pendakian, gunung dan beberapa teman tertarik berminat mau mendaki gunung juga.

Kami sudah jelaskan, jika mendaki gunung bukan sebuah lifestyle yang kekinian. Mendaki gunung tidak cukup hanya karena ingin terlihat keren. Tetapi lebih kepada minat yang kuat, hobi, dan atau kecintaan kepada hal-hal yang tampak ekstream.

Jika melihat foto-foto para pendaki (kita biasanya mengistilahkannya sebar racun) siapa saja pantas merasa tertarik dan takjub melihat keindahan alam, matahari terbenam/terbit, berada di ketinggian, berada di atas hamparan awan, yang kesemuanya itu belum tentu semua orang bisa merasakan/melakukannya.

Tapi tahukah kalau semua itu tidak gratis? Dibalik semua itu, pasti ada pengorbanan, kerja keras, bahkan bahaya yang mengancam nyawa sekalipun. Perlu banyak latihan dan wawasan supaya perjalanan yang kebanyakan bermedan berat bisa dilalui dengan nyaman dan selamat. Khususnya bagi teman-teman yang belum pernah sama-sekali mendaki gunung, kiranya harus mempertimbangkan kondisi gunung yang akan didaki.

Karenanya, meski ini bukan teori pasti tapi bisa jadi pertimbangan gunung mana dulu yang sebaiknya ditaklukkan oleh teman-teman yang ingin serius mendaki gunung untuk pertama kalinya.

Meski setiap orang bisa saja menentukan mau mendaki gunung mana saja dulu, tapi paling tidak secara kasat mata prosesnya sebelum berlari itu kita belajar jalan dulu, kan? Sejalan dengan pemahaman sebelum menaklukkan Puncak Jayawijaya, baiknya belajar menaklukkan dulu Semeru, Kerinci, Latimojong, dan gunung lain yang sifat kesukarannya bergrafik naik stabil.

Pertimbangan Mendaki Gunung Pertama Kali

Faktor yang dipertimbangkan meliputi lokasi, kondisi medan treking, cuaca, kemudahan sarana dan prasarana, dan beberapa hal lain.

  • Lokasi

Biasanya turut menentukan gunung mana yang pertama kali akan kita taklukkan. Warga Cianjur, Sukabumi dan Bogor, mungkin akan memilih mendaki Gunung Gede Pangrango daripada Gunung Raung di Jawa Timur. Begitu juga warga Yogyakarta sepertinya akan mendahulukan menaklukkan Gunung Merapi, sebelum menjelajahi Kerinci di Pulau Sumatera. Jelas kalau lokasi turut menentukan pilihan kita.

Intinya, mendaki gunung yang lebih dekat dengan lokasi tempat kita tinggal akan banyak memberikan kemudahan. Selain kondisi alam, cuaca dan bahasa penduduk yang tidak jauh beda, juga bisa sedikit mengirit biaya.

  • Kondisi Medan

Perlu diperhatikan oleh teman-teman yang belum pernah mendaki. Tidak biasa berjalan kaki dengan medan yang licin, terjal dan menanjak pasti akan menyiksa diri. Pilih medan yang relatif landai, mudah dilewati, dan tak merepotkan.

Buat kesan pertama menggembirakan. Maka mendaki gunung makin diminati. Jika kesan pertama sudah merasa tersiksa, bisa jadi  tidak mau lagi menggendong carrier dan mencapai puncak untuk mengintip matahari bersinar.

  • Sarana Prasarana

Menjadi pertimbangan bagi kebanyakan para pendaki  yang baru. Lokasi Pos Pendakian, sumber air minum, ketersediaannya tempat untuk mendirikan tenda, dan mudahnya sinyal (halah…) kerap dipertanyakan para pendaki ini.

Ya, jangankan yang baru pertama kali mendaki, yang sering mendaki saja, pasti akan merasa senang bila di lokasi kita naik gunung itu terdapat berbagai kemudahan. Hanya jika bagi mereka yang sering mendaki, jika tidak mendapati kemudahan-kemudahan itu mereka tetap akan mendaki karena sudah terlatih dan terbiasa.

Tidak ada Pos Pendakian, tidak masalah karena di mana saja sesungguhnya bisa dibuat sebagai tempat break. Tidur sambil berdiri pun secara kasarnya tak apa. Tidak ada penunjuk arah tak kan membuatnya tersesat. Tidak ada sumber air, tak jadi soal disiasati dengan berani membawa persediaan air meski berat dan berusaha menghematnya. Tidak ada sinyal pun tak menyurutkan niat mendaki karena tujuannya bukan mau pamer selfie atau  narsis. Tapi semua itu mungkin sulit diterapkan kepada teman-teman yang baru pertama kali mendaki. Belum kerasan, hehehe!

Merujuk kepada situs national geographic ada lima gunung yang direkomendasikan untuk teman-teman yang pertama kali akan melakukan pendakian. Ialah Gunung Papandayan di Garut Jawa Barat, Gunung Nglanggeran di Yogyakarta, Gunung Pananggungan di Jawa Timur, Gunung Merbabu di Jawa Tengah dan Gunung Batur di Pulau Bali.

Bagi teman-teman yang berada di luar lokasi gunung tersebut, jangan berkecil hati, karena sejatinya mendaki gunung itu kembali ke niat awal kita. Coba cari informasi gunung terdekat di daerahmu, kontak beberapa komunitas pendaki gunung dan lakukan pendakian yang menyenangkan. Dengan begitu, kelak saat akan ikut mendaki ke gunung yang lebih jauh dan memiliki ketinggian lebih, insya Allah teman-teman sudah terlatih dan mempunyai gambaran terkait pendakian.

Jadi setelah punya gambaran sudah siap mendaki gunung yang mana dulu nih? Saya sih mana aja siap, asal bareng kamu, iya, kamu… 🙂

Kompor Canggih Pendaki Gunung

Kompor Canggih Pendaki Gunung

Kompor Canggih

Saat tulisan ini dibuat, dipastikan kompor canggih para pendaki gunung yang dimaksud yaitu kompor Biolate Campstove belum dijual di Indonesia.

Kecanggihan dari kompor ini tidak hanya sebatas alat untuk memasak, namun sekaligus bisa jadi penambah daya. Karena sifatnya yang multifungsi ini, tidak menutup kemungkinan kedepannya kompor Biolate Campstove ini bakal banyak diminati dan jadi sumber bisnis untuk usaha jual beli.

Meski para pendaki gunung tetap bisa menggunakan kompor gas portabel saat mendaki, kedepannya kompor multifungsi ini dipastikan bakal menjadi teman saat mendaki yang canggih. Pasti tidak sabar para pendaki bisa menggunakan kompor canggih Biolate Campstove.

Diinformasikan jika kompor model baru ini memiliki dua fungsi sebagai kompor juga sebagai charger baterai (ponsel.) Biolate Campstove bisa digunakan untuk memasak dan membakar kayu, sementara itu converter canggih yang disusun dalam kompor bisa menjadi sebuah sumber listrik yang dapat digunakan untuk mengisi ulang baterai ponsel.

Tidak diketahui apa sebenarnya yang menjadi bahan bakar dari kompor canggih ini. Yang pasti jika sudah beredar dan dijual di tanah air, para pendaki akan senang serta dimanjakan. Sekali memasak bisa membuat perut kenyang dan baterai ponsel pun terisi. Asyiiik…

 

Sumber i.yitmg.com

Planing Packing Hiking

Planing Packing Hiking

PlaningPackingHiking

Tentu saja sebelum memutuskan kemana akan mendaki, kita harus sudah bisa memperkirakan dan merencanakan segala hal yang berkaitan dengannya…

Awal September besok usia Fahmi putra kami 3,5 tahun. Sepertinya sudah cuku besar kami bawa mendaki gunung meski notabene ia masih balita. Perencanaan ini tentu tidak asal jadi, melainkan melalui perencanaan serta pemikiran yang cukup panjang.

Gunung apa yang ramah anak, melalui jalur mana naik serta turunnya, bagaimana perkiraan cuaca pada saatnya nanti, siapa yang akan menjadi ketua team pendakian, bagaimana urusan alat serta logistik, berapa lama perjalanan pulang pergi, semua itu sudah kami diskusikan.

Anak sudah pasti beda dengan orang dewasa. Termasuk sifat dan kebutuhannya. Mendaki gunung yang termasuk perjalanan ekstrim memerlukan persiapan, mulai dari hal besar sampai hal terkecil. Disini peran saya sebagai ibu dituntut untuk bisa membuktikan bisa memenuhi dan mempersiapkan segala keperluan kami.

Dulu, mau nanjak tak banyak yang harus dipikirkan. Bawa alat inti pun sudah jadi. Perlengkapan yang kurang bisa disiasati di lokasi, baik secara alami, maupun manual atau pinjem ke teman. Kini saat pertama kali berencana mau mendaki bawa anak, ketelitian dalam mempersiapkan benar-benar diuji.

Pakaian anak, perlengkapan alat anak, makanan anak, sampai tipe perjalanan dan kondisi jalur sangat kami sesuaikan semua supaya bisa ramah anak. Ada yang kurang, segera mencari dan atau membelinya. Apa yang ada, segera aku kumpulkan, supaya tidak lupa lagi, atau tercecer dan sulit lagi ditemukan. Bagaimanapun, mendaki gunung harus menjadi suatu hal yang menyenangkan. Karena dari perjalanan pertama ini nanti Fahmi mungkin bisa menilai, apakah ia bisa menikmatinya atau perjalanan ini pertama dan untuk sampai itu saja?

Pilihan memang ada di tangan anak kelak. Tapi paling tidak, sebagai orang tua yang suka mendaki gunung, bisa menanamkan pemahaman kepada anak bahwa mendaki gunung itu bukan hanaya untuk gaya-gayaan, bukan hanya untuk terlihat keren, atau biar bisa dibilang kekinian, melainkan mendaki gunung dilakukan karena kita memang suka alam dan tantangan.

Planing sudah, packing sedang, tinggal kesabaran menunggu sang waktu datang untuk menjalankan pendakian yang direncanakan. Duh! Jadi emaknya yang serasa tidak sabaran nih! 🙂

 

Tablet Canggih Pendaki Gunung

thehomesteadingboards dot com

Semakin modern perkembangan teknologi, semakin banyak pula inovasi terbaru dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Alat dan kebutuhan untuk mendaki gunung salah satunya.

Jika selama ini smartphone jadi nyawa kedua buat para pejalan, maka kini saatnya beralih ke tablet yang kekinian, dialah tablet khusus untuk para pendaki gunung Meet Earl. Tablet ini tidak seperti gadget biasa yang selama ini kita tahu, karena tablet ini memiliki fitur-fitur lain yang selama ini mungkin belum kita jumpai, khususnya saat mendaki.

Tablet Meet Earl ini sudah dirancang sedemikian rupa sehingga penggunaannya memaksimalkan perjalanan kita menuju puncak hingga kembali turun membawa kenangan indah sepanjang masa. Karenanya tablet ini terkenal di kalangan para pendaki gunung dan survivor.

Kelebihan utamanya, saat ponsel kita tidak bisa berfungsi karena kendala sinyal, maka tablet yang sudah upgrage dengan sistem operasi (OS) android Jelly Bean 4.1 ini masih bisa jadi andalan. Kelebihan lainnya adalah bisa menghemat daya, sensor cuaca, GPS yang sudah terintegrasi, sebagai alat komunikasi radio, dan tentu saja sebagai alat mengabadikan momen yang tidak akan terlupakan saat menanjak alias modal selfie.

Selain kelebihan tersebut, tentu saja ada beberapa kekurangan lainnya, khususnya menurut saya sendiri. Ukuran tablet yang lebih besar dari smartphone, sehingga kadang tidak masuk di saku menjadi sebuah kendala bagi saya. Satu lagi, karena masih langka di negara kita, otomatis tablet ini harganya muahalll bagi kantong pribadi saya. Ini sih bukan kekurangan dong ya, hehe! Tepatnya ya saya yang kurang modal, wakakakakak…

Foto dan info dari sini

Gunung Gede Pangrango Destinasi Favorit Para Pendaki?

Gede Pangrano

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) berada di kawasan Taman Cibodas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. TNGGP adalah satu dari lima Taman Nasional yang pertama dimiliki Indonesia. TNGGP memiliki aneka ragam ekosistem mulai dari ekosistem sub-montana, sub-alpin, danau, rawa, dan savana.

Kondisi alam TNGGP yang unik dan lengkap tersebut menjadikan TNGGP dianggap sebagai laboratorium alam yang banyak diminati para peneliti sejak ratusan tahun silam.

Kegiatan penelitian di TNGGP dimulai sejak 1980 saat dibentuknya kebun raya dalam skala kecil di dekat Istana Gubernur Jendral Kolonial Belanda di Cipanas. Lalu diperluas dan diberi nama Kebun Raya Cibodas.

Tahun 1889 wilayah hutan sekitar Kebun Raya Cibodas dan sumber air panas ditetapkan sebagai wilayah cagar alam. Oleh Pemerintah Indonesia, tahun 1978 lahan seluas 14.000 ha tersebut yang terdiri dari dua puncak gunung utama beserta lereng-lerengnya ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Gunung Gede Pangrango.

Tahun 1980 kawasan-kawasan yang terpisah tersebut digabung menjadi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Gunung Gede memilii etinggian 2.958 mdpl (meter di atas permukaan laut), dan Gunung Pangrango memiliki ketinggian 3.019 mdpl.

Benarkah TNGGP menjadi tujuan favorit bagi para pendaki di tanah air?

cropped-p1020594.jpg

Setiap tahun lebih dari 50 ribu pendaki datang untuk menaklukan puncak dua gunung bersaudara di Bumi Parahyangan ini. Sejak 2010 peraturan pendakian pun semakin diperketat. Prosedur perizinan membatasi jumlah pendaki. Kuota paling banyak per hari sebanyak 600 orang. Para pendaki yang akan naik TNGGP diwajibkan mendaftarkan diri terlebih dulu minimal 3 hari sebelum pendakian dan maksimal sebulan sebelum pendakian.

Demi menjaga alam TNGGP dibuat tiga jalur resmi pendakian. Jalur Cibodas, Jalur Gunung Putri, dan Jalur Selabintana di Kabupaten Sukabumi.

Kuota setiap jalur pun berbeda. Cibodas mempunyai kuota 300 orang, Gunung Putri sebanyak 200 pendaki dan lewat Selabintana mempunyai kuota 100 orang pendaki setiap harinya.